September 29, 2020

Informasi Berita Indonesia dan Dunia Terupdate Hari Ini

Berita Indonesia dan Dunia hari ini, kabar terbaru terkini. Berita aktual, peristiwa, bisnis, bola, tekno, gosip, artis, viral, trending

Kai Havertz: Kaki Panjang dan Ujian Sekolah Jadi Tantangan Terberat

Frank Lampard

Kai Havertz Bergabimg Chelsea

Aea51india KAI HAVERTZ resmi menjadi milik Chelsea usai The Blues menyelesaikan penandatangan kontrak sang pemain pada Sabtu 5 September 2020 dini hari WIB. Chelsea mendapatkan pemain berusia 21 tahun itu dengan biaya transfer 70 juta pounds atau sekira Rp1,3 triliun.

Kisah Havertz dimulai dari desa Mariadorf, Aachen. Di situlah gelandang serang ini tumbuh dan mendapat bimbingan sepakbola dan dukungan dari keluarganya, terutama kakeknya.

Situs judi slot online terpercaya di Indonesia

“Kakek membantu saya mengambil langkah pertama saya. Saudara laki-laki dan ayah saya juga melakukannya. Semua orang gila sepakbola, dan kami keluarga sepakbola. Kami menyukai sepakbola dan semuanya berputar di sekitar itu, saya tumbuh dengan lingkungan seperti itu,” tuturnya mengutip Bundesliga, Sabtu (5/9/2020).

Havertz bergabung dengan klub pertamanya, Alemannia Mariadorf, saat berusia empat tahun. Kakeknya, Richard, pemilik klub tersebut. “Orang-orang selalu mengatakan saya memiliki potensi untuk berkarier di sana,” kata Havertz.

Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Mariadorf dengan bermain bersama kelompok usia yang dua tahun di atasnya, pada 2009 usianya 10, Havertz bergabung dengan Alemannia Aachen, klub terbesar di kawasan itu. Saat itu, mereka bermain di Bundesliga 2.

Anak muda itu hanya bertahan satu tahun di Aachen. Bukan karena dia tidak bagus, tetapi karena dia terlalu bagus untuk tim tersebut. Bakatnya kemudian menarik seorang pencari bakat Leverkusen.

“Kai bermain untuk tim U-12 Alemannia Aachen. Dia setahun lebih muda dari para pemain dan bermain melawan tim U-12 (Leverkusen) kami,” kata Slawomir Czarniecki pelatih tim muda Leverkusen.

“Saya tidak ingat bagaimana pertandingan itu berakhir, saya kira 8-3 untuk kami, tapi dia mencetak tiga gol balasan. Itu kesan pertama saya pada Kai,” tambahnya.

Chelsea sign Kai Havertz to continue bumper summer - Eurosport

Masalah kaki panjang

Havertz bergabung dengan Leverkusen pada musim panas 2010. Hingga saat itu, playmaker yang memiliki kekuatan kaki kiri itu berhasil mengatasi setiap rintangan di depannya. Meski begitu ia tetap mengalami masa sulit.

“Pada usia 14 atau 15 tahun, saya masih menjadi salah satu pemain terkecil di tim. Kemudian saya mengalami lonjakan pertumbuhan yang cukup cepat. Saya harus terbiasa dengan kaki saya yang lebih panjang. Ini memengaruhi cara Anda bermain sepakbola,” tuturnya.

“Pasti ada sedikit perjuangan, terutama di level U15-U16. Saya banyak berada di bangku cadangan,” ungkapnya.

Namun, Havertz segera mengatasi masalah kaki panjangnya dengan membantu Leverkusen memenangkan gelar Liga Jerman U17 pada 2016. Remaja itu mencetak 18 gol dalam 26 pertandingan.

Havertz segera naik status. Dia bermain untuk tim utama Leverkusen. Debut perdananya terjadi saat melawan Werder Bremen pada Oktober 2016. Saat itu dia menjadi pemain termuda Leverkusen yang bermain di Bundesliga dengan usia 17 tahun 126 hari.

Di Musim debutnya, Havertz bermain gemilang. Dia berhasil mencetak empat gol dan enam asistensi di Liga Jerman.

Tantangan terberat

Sementara Havertz membuat langkah pertamanya di lapangan, ia juga membuat langkah pentingnya lainnya di luar lapangan. Remaja itu harus menyelesaikan ujian sekolah.

Ujian sekolah membuat dia tidak bisa tampil dalam leg kedua Liga Champions saat timnya melawan Atletico Madrid. Havertz menjelaskan momen terberat dalam kariernya sejauh ini adalah ujian sekolah.

Meski begitu, klub terus mendukung langkah Havertz untuk menyelesaikan ujian sekolahnya. “Penyelesaian akhir itu penting tidak hanya di lapangan sepakbola. Semoga berhasil Kai Havertz dengan ujianmu!” tulis Leverkusen ketika itu.

Momen ujian sekolah juga terjadi setelah dia menjalani laga DFB Pokal. Bahkan dia harus menjelani ujian, sehari setelah membantu klubnya menjalani pertandingan di Piala Jerman tersebut.

“Saya harus mengerjakan ujian sekolah menengah setelah usai bermain di Piala DFB ,” jelas Kai Havertz.

“Aku menjalani ujian pada hari Rabu setelah pertandingan tandang pada Selasa malam yang memerlukan waktu tambahan dan penalti. Saya pulang relatif terlambat dan harus melakukan ujian keesokan harinya. Saya tidak ingin membicarakan tentang bagaimana ujian itu berjalan !” tuturnya.

%d bloggers like this: