July 3, 2020

Informasi Berita Indonesia dan Dunia Terupdate Hari Ini

Berita Indonesia dan Dunia hari ini, kabar terbaru terkini. Berita aktual, peristiwa, bisnis, bola, tekno, gosip, artis, viral, trending

Riset Menunjukan Virus Corona Masih Tinggal Di Tubuh usahi Sembuh,Berikut Riset Mengenai Corona

Virus Corona

Petugas memeriksa suhu tubuh penumpang asing

Sebuah riset luncurkan baru- baru ini menampilkan kalau Virus Corona baru bisa bertahan di dalam tubuh selama setidaknya 2 minggu sehabis subjek sembuh

Area51india – Sebuah riset dari Cina yang luncurkan baru- baru ini menampilkan kalau Virus Corona baru bisa bertahan di dalam tubuh selama setidaknya 2 minggu sehabis subjek sembuh.

Akan tetapi, kapabilitas Virus Corona buat membuat inangnya kembali sakit ataupun berpindah dan menginfeksi ke subjek lain telah melemah. Klaim riset tersebut diulas oleh dan dikutip dari Livescience, Minggu( 1/ 3/ 2020).

Kegigihan virus semacam itu merupakan suatu catatan positif tersendiri di kalangan ahli, kata Krys Johnson. Ahli epidemiologi di College of Public Health Temple University.

Virus yang melemah dan masih berkeliaran dalam sistem manusia juga cenderung memicu kekebalan tubuh jadi lebih kuat dari sebelumnya.

Studi Baru Diterbitkan JAMA

Studi baru. Yang diterbitkan dalam jurnal JAMA pada Kamis 27 Februari 2020. Mengambil subjek 4 profesional kedokteran berumur 30 sampai 36 tahun yang mengidap COVID- 19. ( nama penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru). Mereka dirawat di Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan di Cina antara 1 Januari serta 15 Februari.

Semua orang pulih, menurut riset itu, dan cuma satu yang dirawat di rumah sakit selama periode sakitnya. Para pasien diobati dengan oseltamivir, yang lebih diketahui dengan nama merek dagang Tamiflu, obat antivirus.

Para pasien dianggap pulih setelah gejala mereka sembuh dan setelah mereka dites negatif buat COVID- 19 2 kali. ( pada 2 hari berturut- turut). Sehabis pemulihan, penderita dimohon buat mengkarantina diri di rumah sepanjang 5 hari.

Mereka terus menempuh tes seka( swab) tenggorokan buat virus corona setelah 5- 13 hari sehabis pemulihan. Hasilnya menunjukkan kalau tiap uji antara hari ke 5 dan 13 positif buat virus.

” Penemuan ini menunjukkan kalau paling tidak sebagian dari penderita yang pulih masih jadi pembawa virus,” jelas para peneliti.

Penemuan itu datang ketika Jepang melaporkan kasus awal seorang yang sembuh dari Virus Corona. Dan setelah itu sakit kembali akibat virus yang sama buat kedua kalinya.

Mengingat hasil baru pada kegigihan pasca- Virus Corona dari Cina, tidak jelas apa yang terjadi dengan pasien Jepang, kata Krys Johnson dari Temple University. Satu mungkin merupakan dia menangkap virus tipe baru dari orang lain. Kemungkinan lain merupakan kalau sistemnya sendiri tidak melawan virus sepenuhnya dan ketika mulai mereplikasi di dalam paru- parunya lagi, dia hadapi kebangkitan gejala.

Virus Tingkatan Rendah

Image result for DETEKSI VIRUS CORONA
Proses Pengecekan Virus Corona

Tidak jarang virus bertahan pada level rendah dalam tubuh apalagi setelah seorang sembuh dari sesuatu penyakit, kata Ebenezer Tumban, seseorang virolog di Michigan Tech University. Sebagai contoh, virus Zika dan virus Ebola diketahui bertahan selama berbulan- bulan setelah pasien pulih, catat Krys Johnson.

Uji yang dicoba 4 subjek riset dari Wuhan, Cina, tersebut diperuntukan buat mencari fragmen genetik virus dalam badan, kata Tumban. Obbat Tamiflu yang mereka gunakan dapat saja mendesak jumlah kopian virus di badan mereka jadi sebagian, katanya. Pada dikala itu, uji tidak akan lumayan sensitif buat mengetahui virus.

Sehabis penyembuhan antivirus berakhir, virus bisa jadi telah mulai mereplikasi lagi pada tingkatan rendah, kata Tumban. Tidak akan terdapat lumayan virus buat menimbulkan kehancuran jaringan, sehingga penderita tidak merasakan indikasi. Namun jumlah kopian virus hendak lumayan besar untuk uji buat mengetahui mereka lagi.

Pada dikala itu, orang- orang itu mungkin tidak sangat meluas, kata Johnson. Batuk serta bersin memuntahkan partikel virus di sekitarnya, namun orang- orang ini tidak batuk ataupun bersin. Viral load mereka juga rendah. Butuh kontak yang lebih intens buat menyebarkan virus.

” Mereka harus berjaga- jaga dalam urusan rumah tangga dengan tidak berbagi minuman dan membenarkan mereka sering cuci tangan,” katanya.

” Namun jika mereka cuma pembawa, mereka seharusnya tidak bisa mentransmisikan di luar dari kontak dekat minum dan makan bersama,” lanjutnya.

Implikasi Kekebalan

Image result for DETEKSI VIRUS CORONA

Riset juga menyebut kalau tidak ada anggota keluarga subjek riset yang dites positif terkena virus Corona pada saat publikasi makalah ini. Tetapi, penulis mencatat bahwa seluruh subjek merupakan profesional di bidang kedokteran yang mengambil tindakan penangkalan yang sangat hati- hati buat menjauhi penyebaran penyakit saat di rumah.

Studi itu juga menyebut kalau virus yang bertahan dalam badan bisa mendapatkan respon imun yang cukup buat memberikan perlindungan terhadap infeksi baru, kata Johnson. Terdapat banyak persoalan tentang berapa lama kekebalan akan bertahan, kata Ebenezer Tumbang dari Michigan Tech University.

Sebagai contoh, badan mempertahankan kekebalan terhadap virus korona yang menimbulkan flu biasa hanya satu ataupun 2 tahun, katanya. Dan selalu ada mungkin kalau virus corona baru akan bermutasi ketika bergerak lewat populasi, berubah jadi tipe yang tidak bisa dikenali oleh sistem kekebalan badan.

” Tantangannya merupakan, seberapa kilat ini bermutasi?” Kata Johnson.

Banyak Riset yang berhenti

Image result for DETEKSI VIRUS CORONA

Lebih banyak riset tindak lanjut diperlukan buat memahami pemulihan dari COVID- 19, kata Johnson. Orang- orang dalam riset dari Wuhan itu semua mempunyai usia dan status kesehatan yang sama, dan tidak terdapat yang hadapi penyakit parah dari COVID- 19.

Riset di masa depan juga wajib memandang muatan virus di dalam paru- paru, kata Tumban. Seka tenggorokan cuma menangkap virus dari bagian atas saluran pernapasan, namun virus membuat rumahnya jauh di dalam paru- paru.

Pengambilan sampel dari paru- paru merupakan prosedur yang lebih invasif, termasuk cuci cairan lewat alveoli( kantung udara kecil di paru- paru) dan menguji cairan itu buat partikel virus, kata Tumban. Tetapi, riset ini menampilkan kalau pemantauan jangka panjang penderita yang pulih dan kontak mereka merupakan penting.

” Satu minggu ataupun 2 minggu setelahnya, apakah jumlah virus dalam darah ataupun paru- paru akan naik ke konsentrasi yang lebih tinggi sehingga orang tersebut bisa menularkannya ke orang lain?” Tumban berhipotesis.” Itu suatu yang masih belum kita ketahui.”

%d bloggers like this: